Lagi-lagi kota digemparkan oleh baerita pembunuhan.
Sungguh ironis, semua korban yang terbunuh tewas dengan cara yang sama. Apa
memang si pelaku pembunuhan adalah orang yang sama?
“Bos,
saya sudah dapat info. Kabarnya pelaku pembunuhan adalah siswa dari Gwanhok
High School”, ucap seorang asistenku yang tiba-tiba datang saat aku sedang
membaca koran Seoulnews.
“Begitukah?”,
ucapku dengan sebuah pertanyaan singkat dan langsung pergi untuk menyelidikinya
sambil mengendarai BMW yang baru saja kuterima dari atasanku.
Benar,
aku adalah seorang detektif. Namaku Jill. Saat ini aku sedang sibuk menyelidiki
kasus pembunuhan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dan sekarang, aku akan
menuju ke Gwanhok High School untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh
asistenku tadi. Di tengah perjalanan, terlintas dipikiranku untuk menyamar
sebagai siswi di sekolah itu. Mungkin dengan hal itu aku akan lebih leluasa
untuk mencari si pelaku.
***
Penyamaranku
dimulai dari hari ini. Tak masalah jika aku harus menjadi siswi ‘lagi’. Ini
kulakukan demi reputasiku sebagai detektif handal di negri ini. Toh
penampilanku masih pantas untuk menjadi seorang siswi SMA.
BRUUKK!!!
Aww... Siapa yang telah berani menabrakku!? Ternyata seorang lelaki berkulit
putih dan berwajah suram yang telah menabrakku. Ia menatapku dengan tajam, lalu
pergi meninggalkan aku yang terjatuh. Sepertinya dia murid di sekolah ini.
Bukannya membantuku bangun atau minta maaf, malah pergi begitu saja. Orang yang
menyebalkan! Oh iya, kenapa tadi dia menatapku seperti itu ya? Mencurigakan...
Ya
ampun, aku lupa! Jam olahraga akan segera dimulai, dan aku belum mengganti
pakaianku. Aku melihat di kelas sudah sepi, murid-murid lainnya sudah berkumpul
di lapangan untuk memulai jam olahraga. Tinggal aku dan seorang gadis cantik
yang sedang bermain netbook nya di kursi paling belakang di kelas. Ah, untuk
apa aku pedulikan dia? Biarkan saja. Aku pun pergi ke toilet untuk mengganti
pakaian.
***
Beberapa
menit kemudian, aku selesai mengganti pakaian, kemudian keluar dari toilet. Tiba-tiba, aku merasakan suasana sekolah mulai hampa,
bulu kudukku mulai berdiri. Ada apa ini? Firasatku mengatakan akan terjadi
sesuatu... Atau..telah terjadi sesuatu..?
Tidak
mungkin! Sebentar saja kutinggalkan kelas, sudah kudapati gadis yang tadi kulihat
sedang asyik bermain dengan netbook nya telah tewas dengan cara yang
mengenaskan. Pembunuh itu! Mungkinkah orang yang sama? Langsung saja kuambil
peralatan detektif yang kumiliki. Aku memotret jasad gadis itu untuk bukti.
Kucermati baik-baik apa yang mencurigakan dari jasad itu. Motifnya sama seperti
korban lainnya. Si pelaku menikamnya dari belakang menggunakan benda tajam,
sehingga darah korban berhamburan kedepan mengenai netbooknya. Pelaku cukup
cerdik, ia menggunakan sarung tangan atau alat bantu lainnya supaya sidik
jarinya tidak terbaca. Seperti...orang yang sudah sering melakukan pembunuhan.
Tunggu
sebentar, gadis ini sepertinya menggenggam sesuatu. Aku melihatnya dan ternyata
itu adalah sebuah kalung dengan bandul berbentuk bintang. Apa ini miliknya?
Mungkin ini bisa menjadi barang bukti, biar kusimpan dulu. Barang-barang milik
gadis itu ataupun bukan miliknya yang ada disekitarnya aku ambil sebagai barang
bukti. Tapi sekarang, bagaimana dengan mayat ini? Tidak mungkin mayat ini
kubiarkan disini dan membuat gempar satu sekolah. Mayat ini harus kusembunyikan
dimana?
Jam
olahraga tinggal 15 menit lagi. Tak ada waktu, aku harus bergegas! Aku akan
mengambil keranjang basket yang ada di gudang dekat toilet. BRUUK!! Siapa lagi
kali ini? Mengganggu saja. Hahh... dia lagi, dia lagi... Apa kerjaannya hanya
menabraki orang.
“ Tak
ada waktu lagi ”, katanya.
“ Apa?
”, tanyaku kepada orang misterius itu yang tiba-tiba bicara.
“ Aku
tau apa yang sedang kau lakukan ”, katanya.
Dia
langsung menarikku ke gudang dan membantuku mengeluarkan bola-bola basket dari
keranjangnya. Kami langsung lari sambil membawa keranjang basket yang cukup
besar itu menuju ke kelas. Dia pun membantuku memasukkan mayat itu ke dalam
keranjang basket dan kututupi mayat dengan kain lebar yang kutemukan di gudang
tadi.
“ Untuk
kali ini, kelas seni adalah tempat yang aman karena guru seni hari ini tidak
masuk ”, kata orang misterius itu sambil merapikan pakaiannya.
Bel
berbunyi, pelajaran apa ya sekarang? Aku harap sekarang waktunya istirahat, aku
sudah lelah! Gadis yang terlihat kecil ini ternyata cukup berat juga. Eh...
tunggu, mana lelaki misterius tadi? Sudah pergi? Hahh... pergi kemana dia? Aku
belum menanyakan namanya, tapi... kenapa tadi dia ada disana? Dan kenapa dia
mengetahui apa yang sedang kulakukan tadi? Apa dia pembunuhnya? Ah, itu tidak
mungkin! Tampangnya tidak memungkinkan, dia tidak seperti pembunuh.
***
Jam
15.00, waktunya pulang sekolah. Semua anak beranjak meninggalkan sekolah,
sementara aku berjalan menuju kelas seni. Apa, terkunci!? Bagaimana ini!?
Mayatnya itu masih didalam... Ini gawat! Payah! Harusnya aku meletakkan mayat
itu di gudang!
“
Membutuhkan ini? ”, sebuah suara yang tak asing lagi bagiku, ohh.. lelaki
misterius tadi.
“
Detektif payah! Seharusnya kau tau apa yang kau butuhkan! ”, lanjut lelaki
misterius itu sembari membuka pintunya.
“Huh,
apa maksudmu! Kau pikir kau siapa!?”, bentakku kesal. Apa-apaan dia, beraninya
menghinaku! Dengan kesal aku masuk dan melihat mayat itu, menyedihkan. Kasihan
gadis ini.
“Hei,
detektif payah! Mau kau apakan mayat gadis itu?”, tanya lelaki itu
mengagetkanku.
“Eh?
Apa? Detektif? Siapa?”, kataku pura-pura bingung, layaknya orang bodoh. Ah, ada
apa denganku?!
“Haha..
dasar payah!”, dia menghinaku lagi.
“Huh!
Diam kau! Tentu saja membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi!”, bentakku.
“Kau
bisa membawanya sendiri? Kau bawa mobil?”, tanyanya cuek dan duduk di depan
peralatan memahat.
Darimana
dia tau aku detektif? Apa dia juga detektif dikasus ini? Kalau itu benar,
berarti dia partnerku.
“Aku
bawa mobil. Bantu aku membawanya..”, kataku santai. Kuharap dia memang
partnerku.
“Eh..
tunggu... darimana kau tau aku detektif? Apa kau juga detektif?”, aku
menyelanya saat dia hendak mengangkat mayat gadis yang bernama Jess itu.
“Kau
benar-benar detektif payah... Aku Alviss, dan aku bukan detektif...”, katanya
santai. Mungkin lebih tepat dibilang ‘dingin’. Mendengar perkataannya aku
spontan kaget. Apa maksudnya!? Lalu, siapa dia sebenarnya!? Ya Tuhan... kenapa
hidupku penuh dengan pertanyaan..??
“Lalu
kau siapa?”, tanyaku penasaran. Image-ku pasti rusak sekarang!
“Bukankah
maksudmu darimana aku tau?”, katanya. Image-ku sudah benar-benar rusak
sekarang! Memalukan!
“Sudahlah,
jawab saja!!”, bentakku sambil menyembunyikan rasa maluku.
“Kau
seharusnya jadi korban, bukan detektif! Payah! Kau meninggalkan tanda
pengenalmu tadi...”, kata Alviss sambil memberikan tanda pengenalku.
“Benarkah?
Dimana kau menemukannya?”, tanyaku panik sambil meraba-raba sekitar kantong
bajuku.
“Ini!”,
kata lelaki itu sambil memasukkan tanda pengenalku ke dalam kantong bajuku. Aku
hanya terdiam tak peduli dengan tingkahnya yang cuek dan dingin. Kuperhatikan
sekeliling jalan raya yang kami lewati dengan mobil BMW ku, menikmati
kencangnya laju mobil yang dikemudikan bocah yang baru saja kukenal.
Tapi
tiba-tiba BMW ku melesat kencang melewati pintu gerbang utama rumah sakit yang
merupakan tujuan kami. Aku tak berbicara apapun, mungkin ia akan melewati pintu
gerbang yang lain.
***
“Kita
sampai”, ucap Alviss sambil mematikan mesin mobilku.
“Tempat
apa ini? Kenapa kau memarkir mobilku disini?”, tanyaku bingung melihat sebuah
rumah tua kosong yang dikelilingi pagar besi dimana-mana.
“Sudahlah,
tak usah banyak tanya! Kau bantu saja aku membopong bocah malang itu!”,
suruhnya dan tidak menjawab segala pertanyaanku. Sial! Apakah dia mengira aku
ini pembantunya!?
Aku
mengangkat kaki mayat Jess yang malang itu, sedangkan dia mengangkat kepala dan
badannya.
“Ahh!
Kau membuat gadis ini semakin berat diangkat. Sudahlah! Biar aku saja yang
menggendongnya!”, bentaknya dan mulai menggendong mayat tak berdosa itu di bahu
kirinya.
“Hey,
ambillah kunci di kantong celanaku!”, suruhnya lagi tapi dengan nada ramah
sekarang. Dia mulai membuka semua gembok rantai dan kami pun masuk ke dalam.
“Gelap
sekali disini”, ucapku reflek karena ruangan yang begitu gelap. “TLEK” sebuah
saklar berbunyi dan lampu pun menerangi sekitar ruangan. Aku ternyata sedang
berdiri di tengah-tengah ruang tamu. Tepat dibelakangku ada sebuah sofa berwarna
putih yang begitu lembut. Dinding-dinding ruangan ini dihiasi berbagai lukisan
tak berarti dengan corak-corak warna indah dan membuat ruangan ini terasa
tenang.
“Jadi
ini rumahmu?”, tanyaku penasaran.
“Begitulah”,
jawabnya dingin.
“Ayo
ikuti aku”, sambungnya lagi.
“Baiklah.
Eh, sebentar...”, aku menyelanya.
“Apa?”
“Mayatnya
mulai membusuk”, ucapku seraya memasang masker. Aku ikuti langkah kakinya. Dia
mula-mula melewati dapur dan kemudian berhenti di depan sebuah pintu. Laki-laki
bernama Alviss itu sekilas menatapku dingin.
“Ada
apa?”, tanyaku tegang. Ia malah langsung membuka pintu, tak peduli dengan
pertanyaanku. Ruangannya gelap, dan bocah menyebalkan itu tidak menyalakan
lampu apapun. Mayat Jess di bahunya diletakkan di atas kursi panjang dalam ruangan
itu. Aku bingung, kenapa dia meletakkan mayat Jess di tempat seperti gudang
ini? Entah, apakah dia pantas untuk dicurigai?
“Kenapa
kau menaruhnya disini? Bukankah seharusnya kita membawanya ke rumah sakit untuk
diotopsi?”, tanyaku memberanikan diri.
“Memang”,
jawabnya singkat dan berjalan menuju pintu.
“Aku
serius!”, protesku yang mulai kesal dan membuatnya menghentikan langkah kakinya
tepat di tengah-tengah lorong pintu.
“Aku
harus menyelidikinya dulu”, jawabnya seraya berjalan kembali keluar pintu.
“Siapa?
Siapa yang ingin kau selidiki?”, aku terus mengikutinya hingga kami sampai
dalam ruang tamu. Dia mendudukkan badannya di sofa putih miliknya, dan akupun
latah meniru.
“Mayat
itu. Aku harus menyelidiki dulu mayat itu dan juga pembunuhnya”, ucapnya tegas,
dan ketika ia mengucapkan ‘pembunuhnya’, matanya terasa tajam kepadaku. Aku
mulai bingung dan hanya bertanya-tanya di dalam pikiranku. Sebenarnya siapa
dia? Identitasnya tak jelas. Apakah dia itu sama sepertiku? Seorang detektif
yang menyamar sebagai murid SMA?
“Sebenarnya
kau ini siapa? Seorang detektif? Apa kau partnerku? Atau seorang pengoleksi
mayat?”, candaku sedikit serius.
“Hahaha...
Kau bercanda?”, balasnya dengan sedikit tawa.
“Kau
ingin minum apa? Biar kubuatkan sebentar”, tambahnya menghiraukan lagi
pertanyaanku.
“Kopi
hangat cukup”, kataku cuek.
“Tunggu
disini, aku ke dapur dulu”, pintanya dan segera beranjak dari sofa putih
miliknya.
Tak
terduga dari awal bahwa secepat itu aku menemukan korban berikutnya dari si
pembunuh pengecut. Tak ada yang menduga juga bahwa ternyata ada yang membantuku
menyelidiki masalah ini. Ya, walaupun sebenarnya aku belum tau pasti siapa
Alviss itu. Partnerku? Musuhku? Atau hanya bocah yang merecoki tugasku? Tapi
aku yakin dia anak baik walaupun sikapnya dingin dan cuek serta misterius. Aku
mengeluarkan kalung bintang dari kantong kecil ranselku. Apakah kalung ini
benar-benar bisa menjadi petunjuk dari semua kemisteriusan ini? Atau hanya
barang tak berguna yang seharusnya kubuang?
“Ehm...”,
suara berat Alviss mengalihkan konsentrasiku. Dia mulai berjalan menuju
tempatku duduk dengan sebuah cangkir coklat kemerahan di tangannya. Aku segera
memasukkan kalung yang tak jelas latar belakangnya ke dalam tasku.
“Ini,
minumlah!”, ucapnya meletakkan secangkir kopi di atas meja disebelahku.
“Thanks”,
kubuka masker yang menutup mulut danhidungku, kemudian menyeruput kopi hangat
yang menyiram rasa kering di tenggorokan.
“Sebenarnya,
aku seorang asisten detektif yang masih duduk di bangku SMA”, ucap Alviss tiba-tiba
membuatku kaget dan hampir tersedak kopi.
“Jadi
kau adalah asisten detektif yang sedang mencari tau profokator masalah ini?”,
tanyaku kaget.
“Seperti
itulah”, jawabnya dan melihat jam tangan yang ia pakai di tangan kirinya.
“Aku
harus pergi, ada urusan. Kau ingin pulang atau tetap disini menunggu mayat
gadis malang itu?”, sambungnya.
“Apakah
akan jadi masalah jika aku tetap berada disini?”, tanyaku.
“Oh,
tidak juga”, jawab Alviss, kemudian ia segera pergi meninggalkanku sendiri di
dalam rumah tuanya.
***
Rasa
bosanku mulai meluap sekarang, sepertinya lebih baik aku menyelidiki mayat tadi
daripada berdiam diri melamun. Segera saja kulangkahkan kaki beranjak dari
ruang tamu menuju gudang tadi. Oh, tidak, aku lupa memakai maskerku lagi. Tapi
tak ada bau bangkai yang tercium, hanya bau aneh seperti pengawet. Ya, seperti
bau formalin disini. Aku mendekati mayat gadis yang bernama Jess itu. Tepat
pada kulit di bagian urat nadinya tergambar sebuah seni tatto berwarn ahitam
dengan gambar bintang yang cukup indah. Setelah kuperhatikan baik-baik,
ternyata bintang itu sama dengan binang yang ada pada kalung anak itu sendiri.
Kududukkan
badanku di sebuah kursi yang bersebelahan dengan kursi panjang tempat mayat
Jess diletakkan. Tapi tiba-tiba, aku merasa sepatuku menginjak suatu benda
tebal dan cukup keras. Apa itu? Kutundukkan kepalaku untuk melihat benda
disekitar sepatuku.
“Aaahh!!”,
aku menjerit ngeri sekaligus terkejut. Akhirnya kuputuskan untuk turun ke
lantai dan melihatnya secara seksama.
“Ya
Tuhan, ternyata ini benar-benar tangan sungguhan. Lalu ini mayat siapa? Kenapa
Alviss menyimpannya disini juga? Ataukah dia pelaku pembunuhan yang selama ini
kucari?”, ucapku berbisik pelan, tak mengerti dengan kejadian nyata ini semua.
Kuperhatikan kembali mayat lelaki yang baru saja kuinjak tangannya tadi.
Kuprediksikan mayat ini baru 2 hari yang lalu terbunuh. Tangannya? Sama. Tepat
di bagian atas urat nadi sama seperti mayat Jess ada sebuah tatto bintang. Apa
maksud semua ini? Atau jangan-jangan Alviss juga sedang menyelidiki mayat ini?
Aku
mengerti sekarang. Mungkin si pembunuh memangsa korban yang memiliki ciri-ciri
sama dengan korban lainnya. Aku butuh lampu, dimana saklarnya? Tanganku terus
meraba-raba tembok di sekitar pintu. Tapi, tiba-tiba...
“Hey,
rupanya kau disini!”, Alviss masuk dan sukses mengagetkanku.
“Ya, aku
jenuh bila hanya duduk”, jawabku.
“Emm...
jadi sebelum mayat Jess, kau juga menyelidiki mayat lain yang terbunuh dengan
motiv dan ciri-ciri yang sama?”, tanyaku penasaran dan tegang.
“Ya”,
jawabnya singkat.
“Kau
tahu, aku sudah mendapatkan informasi lain tentang si pembunuh. Ternyata selama
ini dia menjadikan anggota keluarganya sebagai korban. Kau lihat kan tatto
bintang yang ada di tangan gadis itu dan mayat lelaki dewasa tadi? Itulah tanda
bahwa mereka adalah satu keluarga. Konon katanya, si pembunuh adalah orang yang
cukup pendiam. Tapi sifatnya yang pendiam itu menjadikannya kurang
bersosialisasi dan menjadi awal dari jati dirinya menjadi seorang pembunuh. Dia
amat tertekan dengan semua tingkah keluarganya yang selalu meniksa jiwa. Mulai
dari ayah dan ibunya yangtak pernah sedikitpun memberikan perhatian padanya.
Dia selalu disalahkan, dicaci, dimaki, dan diabaikan. Ayah dan ibunya pun
sering bertengkar fisik, hingga membuatnya benar-benar kesal dan tidak tahan
lagi. Sehingga akhirnya si pembunuh mengambil benda tajam dan menghabiskan
nyawa keluarganya. Dan kau tahu yang lebih tragisnya? Si pembunuh menjadi bocah
saiko yang senang sekali membunuh orang, terutama dari bagian keluarganya.
Beberapa sepupunya telah mati menjadi bangkai, dan kemarin terakhir adalah
Jess, adik kandungnya sendiri!”, ucapnya panjang lebar dan begitu menghayati
cerita yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.
“Kau tau
itu semua? Darimana? Ataukah kau memang dekektif yang sangat andal?”, aku mulai
tegang sekarang. Detak jantungku mengencang.
“Tentu
saja aku tau”, ucapnya dingin seraya menggulung lengan panjang kemejanya.
Sekilas aku melihat sesuatu yang aneh di lengannya, seperti melepuh terbakar.
“Masuklah!
Akan kujelaskan lebih rinci padamu, Nona detektif!”, dia mendorongku masuk dan
menutup pintu gudang serapat mungkin. Disini benar-benar gelap, tak ada udara
masuk dan bau formalin menusuk hidungku, membuatku ingin mengeluarkan seluruh
isi perutku.
“Bisakah
kau menyalakan lampu dan membuka pintunya? Aku tak tahan dengan bau ini!”,
bentakku kesal.
“Baiklah,
kunyalakan lampunya. Triiingg!! Lampu menyala”, balasnya konyol. Aku
benar-benar terkejut ketika lampu menyala.
“Apa ini
semua? Kau menyelidiki semuanya sampai sejauh ini? Aku benar-benar tak
mengerti!”, teriakku kaget tak karuan.
“Tak
usah kaget melihat semua kerja kerasku! Lagipula melakukan ini semua tak
membutuhkan tenaga besar”, Alviss memiringkan senyum bibirnya padaku.
“Maksudmu?
Aku tak mengerti!”, ucapku tak membalas senyumannya itu.
“Kau tak
mengerti? Aku sangat mudah menjadikan makhluk-makhluk ini mayat yang tergeletak
manis di gudangku!”, omongannya tak kumengerti sekarang.
“Kau tak
usah tegang dan takjub melihat mayat-mayat ini di sekitarmu!”, sambungnya.
“Hey,
Nona Detektif, kau tau apa ini?”, tanyanya gila sambil menunjukkan sebuah kulit
yang seperti terbakar di lengannya. Aku melihat itu seperti tatto yang berusaha
ia hilangkan. Tapi masih ada sedikit gambar tatto disana. Ya, seperti seperempat
gambar bintang.
“Jill,
sang detektif yang menyamar menjadi murid SMA, aku punya info menarik, bahwa
yang akan menjadi mangsa si pembunuh berikutnya adalah seorang wanita yang
berusaha menemukannya. Dia sangat membenci orang yang selalu menyelidikinya!,
lanjut Alviss panjang lebar. Aku terus terdiam mencerna kata-katanya.
“Jill,
akulah yang selalu kau cari! Dan kaulah mangsaku selanjutnya! Karena akulah
tangan di balik semua pembunuhan misterius ini!”, Alviss berteriak kencang
padaku, menatap mataku tajam dan memegang sebuah pisau runcing serta tajam yang
siap menerjag tubuhku.
“AARRGGHHHH!!!!”,
teriakkan kencangku melengkapi semua kenyataan ini.
***
~END~
Karya:
-
Dea
Syifa Khairani
-
Fageta
Dwi Safitri
-
Halifah
Nur Laili Afifah
-
Mijil
Putri Utami
-
Nurtias
Bayrus
-
Saifa
Rahmi Haritsa