Breaking News

Minggu, 22 Mei 2016

Bahagia Itu Memberi Manfaat

 Ada banyak kejadian hidup yang tak terduga, apa, dimana, kapan, dan bagaimana itu semua sudah dalam skenario Allah.  Saat kemalasan seperti biasa menyapaku di minggu pagi, aku bersama adikku harus ke pasar membeli kebutuhan dapur yang mulai habis. jalan agak lengang karena masih pagi, ya... sekitar setengah tujuh pagi. Sayur, ikan, buah, dan segala macamnya telah kami beli. tak lupa jajan-jajan pasar kami borong, maklum cewe doyan ngemil. daftar belanja sudah tercentang lengkap, saatnya pulang. 

Lalu lintas sekitar Pamulang tidak begitu ramai, kami ingin cepat pulang. BRAAAKKK!!!! suara keras membangunkan lamunanku. Astaga ada kecelakaan. Seorang Ibu berkrudung hitam jatuh tersungkur dalam posisi tengkurap dan helmnya terlempar. Aku dan adikku spontan langsung membantunya. Ada dua ibu-ibu lagi yang membantu kami dan beberapa bapa-bapa yang menghampiri ibu itu. Ia sempat teriak kencang saat terjatuh. Kami mencoba bertanya apa dia masih sadar dan apa dia masih bisa berdiri. Katanya ia tak ingin bangun dulu. Kami menunggu beberapa waktu kemudian kami memapahnya. Sungguh kebetulan kecelakaan tersebut dekat dengan klinik umum sehingga tak butuh waktu lama untuk dapat  ditangani. Semua orang yg membantunya sudah pergi tinggal aku dan dan adikku yang sedang menungguku di sebrang jalan. Aku menyuruh adikku untuk pulang duluan karena orang rumah pasti menunggu. Aku coba berkomunikasi dengan ibu itu dan menanyakan apa ada nomor telpon yang bisa dihubungi dari pihak keluarga. Untunglah ibu itu masih bisa bergerak dan memberikan handphone nya padaku dan memintaku menelpon suaminya. aku mencoba menelpon suaminya tapi tidak juga di angkat, ku telpon juga rumahnya tetap tidak di angkat. kemudian ibu itu memintaku menelfon seseorang yang ada di kontak, dan Alhamdulillah di angkat. ku katakan dengan pelan tapi jelas pada orang yang ada di sebrang telpon. Ia kaget dengan berita yang kukabarkan. Ia langsung tanyakan alamat klinik umumnya dan langsung menuju kesini.

Aku kembali ke dalam ruang dokter dan melihat keadaan ibu tersebut. Gamis yang ia kenakan kotor dan robek, begitupun dengan celananya. Banyak luka sana sini dan kata dokter ada robek di mulut bagian dalam, ya memang saat kecelakaan mulut ibu itu dipenuhi darah. Ibu tersebut memintaku menghubungi kembali suaminya, aku langsung hubungi. Alhamdulillah di angkat. aku pun menjelaskan apa yang terjadi pada suami ibu itu. mendengar kabar istrinya, suaranya langsung berubah gemetar dan panik. Kuberikan alamat lengkapnya dan ia pun langsung berangkat kesini. Aku putuskan untuk menunggu dulu sampai suami atau temannya itu datang baru aku pulang. Aku menunggu cukup lama. sambil menunggu aku ditemani oleh istri dokter yang menangani ibu itu dan berbincang-bincang dengannya. Dari cerita bagaimana kronologi kecelakaan sampai membahas masalah sosial dan psikolog. 

Ada telfon yang masuk dari handphone ibu itu, suaminya. Ia sudah sampai dekat klinik dan menanyakan tempat spesifiknya. Selang beberapa menit temannya pun menelpon menanyakan hal yang sama. Beberapa saat sebuah mobil datang dan ada security yang menanyakan apa ibu itu di tangani disini. Aku katakan Ya, kemudian suaminya turun dari mobil dan aku antarkan beliau ke tempat istrinya. Sunggh pemandangan yang mengharukan. Tak terasa sudah sekitar satu jam aku disana dan aku lupa bahwa harus pulang. Aku pun berpamitan pada ibu dan suaminya untuk pulang, kukatakan juga bahwa temannya akan datang membawa ambulance. Mereka berterima kasih padaku, kukatakan sama-sama.

Aku pulang naik angkot. Dijalan aku termenung dan sesekali tersenyum. Betapa bahagianya aku bisa menolong orang pagi ini, melihat keharuan sebuah keluarga, menambah ilmu dengan berbincang dengan istri dokter, dan terpenting memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidupku. Ini pertama kalinya aku menolong orang yang kecelakaan langsung dengan tanganku sendiri. 

Kebahagiaan akan terasa ketika kita bermanfaat bagi seseorang.
Read more ...

Kamis, 23 Juli 2015

Zonk of the day

Saat itu aku tertidur di kelas dan tak ada yang membangunkanku. Aku tertidur sampai matahari tenggelam. Aku kaget ketika terbangun semua gelap dan sepi. Astaga, pintu juga terkunci. Ah, sudah biasa sebenarnya hal ini terjadi. Mereka memang tak pernah peduli kepadaku dan mungkin mereka sengaja untuk mengunciku disini. Yaa apa boleh buat naik jendela lagi.
Hap! Aku melompat keluar kelas dengan wajah lusuh sambil mengusap air liur saat aku tertidur tadi. Mataku masih merah dan sering menguap. Aku berjalan menuju pintu gerbang.
Hari sudah malam, lampu lampu otomatis menyala. Lingkungan kampus sudah sangat sepi bahkan aku tak melihat satpam yang biasa berkeliling disini. Jalanku sempoyongan, nyawaku belum terkumpul. KYAAAAAAA!!!!!!.... teriakan seseorang membuat sembilan nyawaku terkumpul. Bulu kudukku merinding seketika. Suara siapa itu? Apa yang terjadi? Pikiranku terus bertanya tanya. Astaga rasa penasaranku tak bisa dihentikan tapi rasa takutku tidak kalah parahnya.
Suara teriakan itu aku dengar dari dekat gerbang kalau aku memutar pasti aku tidak akan bertemu dengan entah apa yang ada disana. Aku tergesa-gesa melangkah dengan mata penuh was was. Semakin cepat langkahku semakin aku takut dan kudapati seseorang tengah menyeret seseorang lain dekat gedung forensik. Cekrek * suara kamera hpku berbunyi seiring dengan flash yang membuat orang itu menyadariku. Bodohnya aku tanpa sadar memotret kejadian itu. Dari kejauhan aku melihat matanya dengan hasrat ingin membunuh untuk kedua kalinya. Jantungku seakan berhenti dan tidak bisa beranjak dari tempatku. Orang itu langsung berlari ke arahku tapi tanganku tak bisa berhenti untuk memotretnya. Kematianku sudah dekat.... oh tuhaaan.

To be continue...

Read more ...

Senin, 08 Desember 2014

Minggu, 12 Oktober 2014

The Last Murder


Lagi-lagi kota digemparkan oleh baerita pembunuhan. Sungguh ironis, semua korban yang terbunuh tewas dengan cara yang sama. Apa memang si pelaku pembunuhan adalah orang yang sama?
            “Bos, saya sudah dapat info. Kabarnya pelaku pembunuhan adalah siswa dari Gwanhok High School”, ucap seorang asistenku yang tiba-tiba datang saat aku sedang membaca koran Seoulnews.
            “Begitukah?”, ucapku dengan sebuah pertanyaan singkat dan langsung pergi untuk menyelidikinya sambil mengendarai BMW yang baru saja kuterima dari atasanku.
            Benar, aku adalah seorang detektif. Namaku Jill. Saat ini aku sedang sibuk menyelidiki kasus pembunuhan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dan sekarang, aku akan menuju ke Gwanhok High School untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh asistenku tadi. Di tengah perjalanan, terlintas dipikiranku untuk menyamar sebagai siswi di sekolah itu. Mungkin dengan hal itu aku akan lebih leluasa untuk mencari si pelaku.
***
            Penyamaranku dimulai dari hari ini. Tak masalah jika aku harus menjadi siswi ‘lagi’. Ini kulakukan demi reputasiku sebagai detektif handal di negri ini. Toh penampilanku masih pantas untuk menjadi seorang siswi SMA.
            BRUUKK!!! Aww... Siapa yang telah berani menabrakku!? Ternyata seorang lelaki berkulit putih dan berwajah suram yang telah menabrakku. Ia menatapku dengan tajam, lalu pergi meninggalkan aku yang terjatuh. Sepertinya dia murid di sekolah ini. Bukannya membantuku bangun atau minta maaf, malah pergi begitu saja. Orang yang menyebalkan! Oh iya, kenapa tadi dia menatapku seperti itu ya? Mencurigakan...
            Ya ampun, aku lupa! Jam olahraga akan segera dimulai, dan aku belum mengganti pakaianku. Aku melihat di kelas sudah sepi, murid-murid lainnya sudah berkumpul di lapangan untuk memulai jam olahraga. Tinggal aku dan seorang gadis cantik yang sedang bermain netbook nya di kursi paling belakang di kelas. Ah, untuk apa aku pedulikan dia? Biarkan saja. Aku pun pergi ke toilet untuk mengganti pakaian.
***
            Beberapa menit kemudian, aku selesai mengganti pakaian, kemudian keluar dari toilet. Tiba-tiba,  aku merasakan suasana sekolah mulai hampa, bulu kudukku mulai berdiri. Ada apa ini? Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu... Atau..telah terjadi sesuatu..?
            Tidak mungkin! Sebentar saja kutinggalkan kelas, sudah kudapati gadis yang tadi kulihat sedang asyik bermain dengan netbook nya telah tewas dengan cara yang mengenaskan. Pembunuh itu! Mungkinkah orang yang sama? Langsung saja kuambil peralatan detektif yang kumiliki. Aku memotret jasad gadis itu untuk bukti. Kucermati baik-baik apa yang mencurigakan dari jasad itu. Motifnya sama seperti korban lainnya. Si pelaku menikamnya dari belakang menggunakan benda tajam, sehingga darah korban berhamburan kedepan mengenai netbooknya. Pelaku cukup cerdik, ia menggunakan sarung tangan atau alat bantu lainnya supaya sidik jarinya tidak terbaca. Seperti...orang yang sudah sering melakukan pembunuhan.
            Tunggu sebentar, gadis ini sepertinya menggenggam sesuatu. Aku melihatnya dan ternyata itu adalah sebuah kalung dengan bandul berbentuk bintang. Apa ini miliknya? Mungkin ini bisa menjadi barang bukti, biar kusimpan dulu. Barang-barang milik gadis itu ataupun bukan miliknya yang ada disekitarnya aku ambil sebagai barang bukti. Tapi sekarang, bagaimana dengan mayat ini? Tidak mungkin mayat ini kubiarkan disini dan membuat gempar satu sekolah. Mayat ini harus kusembunyikan dimana?
            Jam olahraga tinggal 15 menit lagi. Tak ada waktu, aku harus bergegas! Aku akan mengambil keranjang basket yang ada di gudang dekat toilet. BRUUK!! Siapa lagi kali ini? Mengganggu saja. Hahh... dia lagi, dia lagi... Apa kerjaannya hanya menabraki orang.
            “ Tak ada waktu lagi ”, katanya.
            “ Apa? ”, tanyaku kepada orang misterius itu yang tiba-tiba bicara.
            “ Aku tau apa yang sedang kau lakukan ”, katanya.
            Dia langsung menarikku ke gudang dan membantuku mengeluarkan bola-bola basket dari keranjangnya. Kami langsung lari sambil membawa keranjang basket yang cukup besar itu menuju ke kelas. Dia pun membantuku memasukkan mayat itu ke dalam keranjang basket dan kututupi mayat dengan kain lebar yang kutemukan di gudang tadi.
            “ Untuk kali ini, kelas seni adalah tempat yang aman karena guru seni hari ini tidak masuk ”, kata orang misterius itu sambil merapikan pakaiannya.
            Bel berbunyi, pelajaran apa ya sekarang? Aku harap sekarang waktunya istirahat, aku sudah lelah! Gadis yang terlihat kecil ini ternyata cukup berat juga. Eh... tunggu, mana lelaki misterius tadi? Sudah pergi? Hahh... pergi kemana dia? Aku belum menanyakan namanya, tapi... kenapa tadi dia ada disana? Dan kenapa dia mengetahui apa yang sedang kulakukan tadi? Apa dia pembunuhnya? Ah, itu tidak mungkin! Tampangnya tidak memungkinkan, dia tidak seperti pembunuh.
***
            Jam 15.00, waktunya pulang sekolah. Semua anak beranjak meninggalkan sekolah, sementara aku berjalan menuju kelas seni. Apa, terkunci!? Bagaimana ini!? Mayatnya itu masih didalam... Ini gawat! Payah! Harusnya aku meletakkan mayat itu di gudang!
            “ Membutuhkan ini? ”, sebuah suara yang tak asing lagi bagiku, ohh.. lelaki misterius tadi.
            “ Detektif payah! Seharusnya kau tau apa yang kau butuhkan! ”, lanjut lelaki misterius itu sembari membuka pintunya.
            “Huh, apa maksudmu! Kau pikir kau siapa!?”, bentakku kesal. Apa-apaan dia, beraninya menghinaku! Dengan kesal aku masuk dan melihat mayat itu, menyedihkan. Kasihan gadis ini.
            “Hei, detektif payah! Mau kau apakan mayat gadis itu?”, tanya lelaki itu mengagetkanku.
            “Eh? Apa? Detektif? Siapa?”, kataku pura-pura bingung, layaknya orang bodoh. Ah, ada apa denganku?!
            “Haha.. dasar payah!”, dia menghinaku lagi.
            “Huh! Diam kau! Tentu saja membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi!”, bentakku.
            “Kau bisa membawanya sendiri? Kau bawa mobil?”, tanyanya cuek dan duduk di depan peralatan memahat.
            Darimana dia tau aku detektif? Apa dia juga detektif dikasus ini? Kalau itu benar, berarti dia partnerku.
            “Aku bawa mobil. Bantu aku membawanya..”, kataku santai. Kuharap dia memang partnerku.
            “Eh.. tunggu... darimana kau tau aku detektif? Apa kau juga detektif?”, aku menyelanya saat dia hendak mengangkat mayat gadis yang bernama Jess itu.
            “Kau benar-benar detektif payah... Aku Alviss, dan aku bukan detektif...”, katanya santai. Mungkin lebih tepat dibilang ‘dingin’. Mendengar perkataannya aku spontan kaget. Apa maksudnya!? Lalu, siapa dia sebenarnya!? Ya Tuhan... kenapa hidupku penuh dengan pertanyaan..??
            “Lalu kau siapa?”, tanyaku penasaran. Image-ku pasti rusak sekarang!
            “Bukankah maksudmu darimana aku tau?”, katanya. Image-ku sudah benar-benar rusak sekarang! Memalukan!
            “Sudahlah, jawab saja!!”, bentakku sambil menyembunyikan rasa maluku.
            “Kau seharusnya jadi korban, bukan detektif! Payah! Kau meninggalkan tanda pengenalmu tadi...”, kata Alviss sambil memberikan tanda pengenalku.
            “Benarkah? Dimana kau menemukannya?”, tanyaku panik sambil meraba-raba sekitar kantong bajuku.
            “Ini!”, kata lelaki itu sambil memasukkan tanda pengenalku ke dalam kantong bajuku. Aku hanya terdiam tak peduli dengan tingkahnya yang cuek dan dingin. Kuperhatikan sekeliling jalan raya yang kami lewati dengan mobil BMW ku, menikmati kencangnya laju mobil yang dikemudikan bocah yang baru saja kukenal.
            Tapi tiba-tiba BMW ku melesat kencang melewati pintu gerbang utama rumah sakit yang merupakan tujuan kami. Aku tak berbicara apapun, mungkin ia akan melewati pintu gerbang yang lain.
***

            “Kita sampai”, ucap Alviss sambil mematikan mesin mobilku.
            “Tempat apa ini? Kenapa kau memarkir mobilku disini?”, tanyaku bingung melihat sebuah rumah tua kosong yang dikelilingi pagar besi dimana-mana.
            “Sudahlah, tak usah banyak tanya! Kau bantu saja aku membopong bocah malang itu!”, suruhnya dan tidak menjawab segala pertanyaanku. Sial! Apakah dia mengira aku ini pembantunya!?
            Aku mengangkat kaki mayat Jess yang malang itu, sedangkan dia mengangkat kepala dan badannya.
            “Ahh! Kau membuat gadis ini semakin berat diangkat. Sudahlah! Biar aku saja yang menggendongnya!”, bentaknya dan mulai menggendong mayat tak berdosa itu di bahu kirinya.
            “Hey, ambillah kunci di kantong celanaku!”, suruhnya lagi tapi dengan nada ramah sekarang. Dia mulai membuka semua gembok rantai dan kami pun masuk ke dalam.
            “Gelap sekali disini”, ucapku reflek karena ruangan yang begitu gelap. “TLEK” sebuah saklar berbunyi dan lampu pun menerangi sekitar ruangan. Aku ternyata sedang berdiri di tengah-tengah ruang tamu. Tepat dibelakangku ada sebuah sofa berwarna putih yang begitu lembut. Dinding-dinding ruangan ini dihiasi berbagai lukisan tak berarti dengan corak-corak warna indah dan membuat ruangan ini terasa tenang.
            “Jadi ini rumahmu?”, tanyaku penasaran.
            “Begitulah”, jawabnya dingin.
            “Ayo ikuti aku”, sambungnya lagi.
            “Baiklah. Eh, sebentar...”, aku menyelanya.
            “Apa?”
            “Mayatnya mulai membusuk”, ucapku seraya memasang masker. Aku ikuti langkah kakinya. Dia mula-mula melewati dapur dan kemudian berhenti di depan sebuah pintu. Laki-laki bernama Alviss itu sekilas menatapku dingin.
            “Ada apa?”, tanyaku tegang. Ia malah langsung membuka pintu, tak peduli dengan pertanyaanku. Ruangannya gelap, dan bocah menyebalkan itu tidak menyalakan lampu apapun. Mayat Jess di bahunya diletakkan di atas kursi panjang dalam ruangan itu. Aku bingung, kenapa dia meletakkan mayat Jess di tempat seperti gudang ini? Entah, apakah dia pantas untuk dicurigai?
            “Kenapa kau menaruhnya disini? Bukankah seharusnya kita membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi?”, tanyaku memberanikan diri.
            “Memang”, jawabnya singkat dan berjalan menuju pintu.
            “Aku serius!”, protesku yang mulai kesal dan membuatnya menghentikan langkah kakinya tepat di tengah-tengah lorong pintu.
            “Aku harus menyelidikinya dulu”, jawabnya seraya berjalan kembali keluar pintu.
            “Siapa? Siapa yang ingin kau selidiki?”, aku terus mengikutinya hingga kami sampai dalam ruang tamu. Dia mendudukkan badannya di sofa putih miliknya, dan akupun latah meniru.
            “Mayat itu. Aku harus menyelidiki dulu mayat itu dan juga pembunuhnya”, ucapnya tegas, dan ketika ia mengucapkan ‘pembunuhnya’, matanya terasa tajam kepadaku. Aku mulai bingung dan hanya bertanya-tanya di dalam pikiranku. Sebenarnya siapa dia? Identitasnya tak jelas. Apakah dia itu sama sepertiku? Seorang detektif yang menyamar sebagai murid SMA?
            “Sebenarnya kau ini siapa? Seorang detektif? Apa kau partnerku? Atau seorang pengoleksi mayat?”, candaku sedikit serius.
            “Hahaha... Kau bercanda?”, balasnya dengan sedikit tawa.
            “Kau ingin minum apa? Biar kubuatkan sebentar”, tambahnya menghiraukan lagi pertanyaanku.
            “Kopi hangat cukup”, kataku cuek.
            “Tunggu disini, aku ke dapur dulu”, pintanya dan segera beranjak dari sofa putih miliknya.
            Tak terduga dari awal bahwa secepat itu aku menemukan korban berikutnya dari si pembunuh pengecut. Tak ada yang menduga juga bahwa ternyata ada yang membantuku menyelidiki masalah ini. Ya, walaupun sebenarnya aku belum tau pasti siapa Alviss itu. Partnerku? Musuhku? Atau hanya bocah yang merecoki tugasku? Tapi aku yakin dia anak baik walaupun sikapnya dingin dan cuek serta misterius. Aku mengeluarkan kalung bintang dari kantong kecil ranselku. Apakah kalung ini benar-benar bisa menjadi petunjuk dari semua kemisteriusan ini? Atau hanya barang tak berguna yang seharusnya kubuang?
            “Ehm...”, suara berat Alviss mengalihkan konsentrasiku. Dia mulai berjalan menuju tempatku duduk dengan sebuah cangkir coklat kemerahan di tangannya. Aku segera memasukkan kalung yang tak jelas latar belakangnya ke dalam tasku.
            “Ini, minumlah!”, ucapnya meletakkan secangkir kopi di atas meja disebelahku.
            “Thanks”, kubuka masker yang menutup mulut danhidungku, kemudian menyeruput kopi hangat yang menyiram rasa kering di tenggorokan.
            “Sebenarnya, aku seorang asisten detektif yang masih duduk di bangku SMA”, ucap Alviss tiba-tiba membuatku kaget dan hampir tersedak kopi.
            “Jadi kau adalah asisten detektif yang sedang mencari tau profokator masalah ini?”, tanyaku kaget.
            “Seperti itulah”, jawabnya dan melihat jam tangan yang ia pakai di tangan kirinya.
            “Aku harus pergi, ada urusan. Kau ingin pulang atau tetap disini menunggu mayat gadis malang itu?”, sambungnya.
            “Apakah akan jadi masalah jika aku tetap berada disini?”, tanyaku.
            “Oh, tidak juga”, jawab Alviss, kemudian ia segera pergi meninggalkanku sendiri di dalam rumah tuanya.
***
            Rasa bosanku mulai meluap sekarang, sepertinya lebih baik aku menyelidiki mayat tadi daripada berdiam diri melamun. Segera saja kulangkahkan kaki beranjak dari ruang tamu menuju gudang tadi. Oh, tidak, aku lupa memakai maskerku lagi. Tapi tak ada bau bangkai yang tercium, hanya bau aneh seperti pengawet. Ya, seperti bau formalin disini. Aku mendekati mayat gadis yang bernama Jess itu. Tepat pada kulit di bagian urat nadinya tergambar sebuah seni tatto berwarn ahitam dengan gambar bintang yang cukup indah. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata bintang itu sama dengan binang yang ada pada kalung anak itu sendiri.
            Kududukkan badanku di sebuah kursi yang bersebelahan dengan kursi panjang tempat mayat Jess diletakkan. Tapi tiba-tiba, aku merasa sepatuku menginjak suatu benda tebal dan cukup keras. Apa itu? Kutundukkan kepalaku untuk melihat benda disekitar sepatuku.
            “Aaahh!!”, aku menjerit ngeri sekaligus terkejut. Akhirnya kuputuskan untuk turun ke lantai dan melihatnya secara seksama.
            “Ya Tuhan, ternyata ini benar-benar tangan sungguhan. Lalu ini mayat siapa? Kenapa Alviss menyimpannya disini juga? Ataukah dia pelaku pembunuhan yang selama ini kucari?”, ucapku berbisik pelan, tak mengerti dengan kejadian nyata ini semua. Kuperhatikan kembali mayat lelaki yang baru saja kuinjak tangannya tadi. Kuprediksikan mayat ini baru 2 hari yang lalu terbunuh. Tangannya? Sama. Tepat di bagian atas urat nadi sama seperti mayat Jess ada sebuah tatto bintang. Apa maksud semua ini? Atau jangan-jangan Alviss juga sedang menyelidiki mayat ini?
            Aku mengerti sekarang. Mungkin si pembunuh memangsa korban yang memiliki ciri-ciri sama dengan korban lainnya. Aku butuh lampu, dimana saklarnya? Tanganku terus meraba-raba tembok di sekitar pintu. Tapi, tiba-tiba...
            “Hey, rupanya kau disini!”, Alviss masuk dan sukses mengagetkanku.
            “Ya, aku jenuh bila hanya duduk”, jawabku.
            “Emm... jadi sebelum mayat Jess, kau juga menyelidiki mayat lain yang terbunuh dengan motiv dan ciri-ciri yang sama?”, tanyaku penasaran dan tegang.
            “Ya”, jawabnya singkat.
            “Kau tahu, aku sudah mendapatkan informasi lain tentang si pembunuh. Ternyata selama ini dia menjadikan anggota keluarganya sebagai korban. Kau lihat kan tatto bintang yang ada di tangan gadis itu dan mayat lelaki dewasa tadi? Itulah tanda bahwa mereka adalah satu keluarga. Konon katanya, si pembunuh adalah orang yang cukup pendiam. Tapi sifatnya yang pendiam itu menjadikannya kurang bersosialisasi dan menjadi awal dari jati dirinya menjadi seorang pembunuh. Dia amat tertekan dengan semua tingkah keluarganya yang selalu meniksa jiwa. Mulai dari ayah dan ibunya yangtak pernah sedikitpun memberikan perhatian padanya. Dia selalu disalahkan, dicaci, dimaki, dan diabaikan. Ayah dan ibunya pun sering bertengkar fisik, hingga membuatnya benar-benar kesal dan tidak tahan lagi. Sehingga akhirnya si pembunuh mengambil benda tajam dan menghabiskan nyawa keluarganya. Dan kau tahu yang lebih tragisnya? Si pembunuh menjadi bocah saiko yang senang sekali membunuh orang, terutama dari bagian keluarganya. Beberapa sepupunya telah mati menjadi bangkai, dan kemarin terakhir adalah Jess, adik kandungnya sendiri!”, ucapnya panjang lebar dan begitu menghayati cerita yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.
            “Kau tau itu semua? Darimana? Ataukah kau memang dekektif yang sangat andal?”, aku mulai tegang sekarang. Detak jantungku mengencang.
            “Tentu saja aku tau”, ucapnya dingin seraya menggulung lengan panjang kemejanya. Sekilas aku melihat sesuatu yang aneh di lengannya, seperti melepuh terbakar.
            “Masuklah! Akan kujelaskan lebih rinci padamu, Nona detektif!”, dia mendorongku masuk dan menutup pintu gudang serapat mungkin. Disini benar-benar gelap, tak ada udara masuk dan bau formalin menusuk hidungku, membuatku ingin mengeluarkan seluruh isi perutku.
            “Bisakah kau menyalakan lampu dan membuka pintunya? Aku tak tahan dengan bau ini!”, bentakku kesal.
            “Baiklah, kunyalakan lampunya. Triiingg!! Lampu menyala”, balasnya konyol. Aku benar-benar terkejut ketika lampu menyala.
            “Apa ini semua? Kau menyelidiki semuanya sampai sejauh ini? Aku benar-benar tak mengerti!”, teriakku kaget tak karuan.
            “Tak usah kaget melihat semua kerja kerasku! Lagipula melakukan ini semua tak membutuhkan tenaga besar”, Alviss memiringkan senyum bibirnya padaku.
            “Maksudmu? Aku tak mengerti!”, ucapku tak membalas senyumannya itu.
            “Kau tak mengerti? Aku sangat mudah menjadikan makhluk-makhluk ini mayat yang tergeletak manis di gudangku!”, omongannya tak kumengerti sekarang.
            “Kau tak usah tegang dan takjub melihat mayat-mayat ini di sekitarmu!”, sambungnya.
            “Hey, Nona Detektif, kau tau apa ini?”, tanyanya gila sambil menunjukkan sebuah kulit yang seperti terbakar di lengannya. Aku melihat itu seperti tatto yang berusaha ia hilangkan. Tapi masih ada sedikit gambar tatto disana. Ya, seperti seperempat gambar bintang.
            “Jill, sang detektif yang menyamar menjadi murid SMA, aku punya info menarik, bahwa yang akan menjadi mangsa si pembunuh berikutnya adalah seorang wanita yang berusaha menemukannya. Dia sangat membenci orang yang selalu menyelidikinya!, lanjut Alviss panjang lebar. Aku terus terdiam mencerna kata-katanya.
            “Jill, akulah yang selalu kau cari! Dan kaulah mangsaku selanjutnya! Karena akulah tangan di balik semua pembunuhan misterius ini!”, Alviss berteriak kencang padaku, menatap mataku tajam dan memegang sebuah pisau runcing serta tajam yang siap menerjag tubuhku.
            “AARRGGHHHH!!!!”, teriakkan kencangku melengkapi semua kenyataan ini.

***
~END~

Karya:
-       Dea Syifa Khairani
-       Fageta Dwi Safitri
-       Halifah Nur Laili Afifah
-       Mijil Putri Utami
-       Nurtias Bayrus
-       Saifa Rahmi Haritsa


Read more ...

My Dorm

 Assalamualaikum ... :)


hay hay hay jumpa lagi ya
Dah lama banget nih gak pernah ngeblog lagi. emm... kali ini aku mau cerita tentang asramaku. kebetulan aku baru lulus bulam april kemarin, Sekarang alhamdulillah udah kuliah. oke langsung cerita aja ya :)

Sebelum aku masuk sekolah aku selalu membayangkan bagaimana hidup di asrama? mandiri tanpa orang tua? oh nooo... gak tau deh jadinya gimana. Tapi entah kenapa aku pengen banget sekolah berasrama. Sebenernya aku gak pengen pesantren, Tapi ada temenku yang nawarin buat survey ke salah satu sekolah, PPM Sahid namanya. Sekolah yang luas dengan suguhan pemandangan yang luar biasa keren. dimana-mana pohon, bukit, gunung, rerumputan, pokoknya sepanjang mata memandang semua hijau. subhanallah banget deh. Karena sekolahnya ada di gunung bukan berarti sekolahnya terbelakang akan fasilitas-fasilitas. Hampir semua yang kita butuhin ada kok. biar di gunung fasilitasnya gak kalah. konsep bangunannya bisa di bilang standar perhotelan. gedung sekolah yang berada di tengah-tengah hutan di atas bukit, asrama-asrama yang namanya berkonsepkan wali songo, sampai gedung pertemuan yang ada di puncak gunung menyan namanya *lucu ya namanya?.




liat kan gambar di atas? yang pertama itu asrama putri. kita mulai dari kanan ya. asrama yang paling kanan itu asrama Sunan Kudus,nah yang di sebelahnya asramaku, namanya asrama Sunan Muria, berikutnya asrama Sunan Drajat, dan Sunan Giri. Kalo gambar yang kedua itu asrama putra, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel. gambar di bawah ini adalah asrama Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. bisa di lihat kan kawan betapa indahnya Sahid itu? yaa.. walaupun pernah aku agak menyesal sekolah di sana, tapi sekarang aku sadar betapa berharga tempat itu dan menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidupku bisa bersekolah di sana. 


Buat temen-temenku yang pernah bilang kalau kalian menyesal sekolah di Sahid, aku berharap kalian tarik ucapan kalian lagi. karena aku udah sadar betapa berharganya belajar selama tiga tahun dengan alam yang begitu indah dan gak akan kalian dapatkan di Jakarta. Yang paling penting dari itu di sana aku bukan cuma belajar tentang pelajaran sekolah aja, aku banyak belajar tentang memahami dan menghargai oranglain, bagaimana menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang rumit. dan yang paling paling paling membuat aku gak bisa lupa adalah tentang kesolidaritasan yang kita bangun selama tiga tahun itu. Oke itu aja dulu ya... sebenernya masih banyak yang mau di ceritain. tentang asrama... ini masih iklan-iklan aja. cerita sesungguhnya akan kita bahas lain kali oke? 
to be continue ...
Read more ...
Designed By Mijil